Bagaimana jadi PIMPINAN yang baik?

Ini bukan tentang artikel trik-trik menjadi pimpinan yang baik. Ini adalah kegalauanku atas kinerja seorang atasan yang sudah bertahun-tahun jadi pimpinan. Pimpinan atau atasan harusnya adalah seseorang yang layak diangkat sebagai pemimpin. Artinya mempunyai pengalaman dan kinerja yang diakui bisa memimpin. Pemimpin diharapkan mampu bersikap bijaksana, adil dan memiliki perhatian untuk anak buahnya. Walau kadang ada seseorang yang diangkat menjadi pemimpin karena jalan yang tidak benar (Nepotisme, Kolusi, dsb). Lihatlah postingan mbak Reni tentang kenaikan jabatan. Ada orang yang menghalalkan segala cara untuk naik jabatan walau pada dasarnya orang tersebut belum pantas mendapat jabatan yang lebih tinggi. 

Memiliki pemimpin yang egois sungguh tidak mengenakkan. Egois dalam artian hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Boro-boro memikirkan kesejahteraan bawahan, bahkan tega mengambil hak-hak bawahan yang seharusnya diayomi.

Memotong jatah cuti yang harusnya menjadi hak bagi bawahan. Tidak menaikkan gaji tahunan dengan alasan-alasan yang sulit diterima akal. Misalnya karena si karyawan adalah seorang wanita yang sedang dekat dengan salah satu karyawan lain yang memiliki istri. Padahal jelas-jelas kedekatan si bawahan dengan salah satu koleganya tidak mempengaruhi kinerja kerja bawahannya. Itu kenapa alasan tidak menaikkan gaji itu menjadi tidak masuk akal.

Pimpinan juga harusnya seseorang yang bisa memahami karakter anak buahnya, tidak perlu merasa lebih hebat dan sok jadi sosok yang menakutkan buat anak buahnya. Apa enaknya jadi pemimpin yang ditakuti? Yang dibutuhkan adalah rasa hormat dan disegani, bukan karena kekuatan jabatan atau fisik yang dimilikinya tapi segan pada kebijaksanaan dan wibawanya.

Jika ada bawahan yang melakukan kesalahan sebagai pimpinan jangan langsung mencak-mencak didepan bawahannya dan staf-staf lain. atasan sebaiknya menegur dengan baik-baik dan tidak harus memberikan teguran di depan staf yang lain. Bisa memanggilnya ked alam ruangan dan mengatakan kesalahan si karyawan dengan cara baik-baik. 

Begitu juga ketika bawahan melakukan kerjanya dengan luar biasa. Rela lembur di luar jam kerja, atau masuk dihari libur. Sebaiknya ada reward yang diberikan, tidak harus memberikan hadiah atau pujian yang macam-macam. Cukup ucapan terima kasih yang tulus dari atasan, pasti membuat bawahan merasa dihargai.

Aku punya seorang teman yang jadi pimpinan kerja sebuah proyek yang membawahi beberapa orang pekerja kasar. Beliau adalah staf lapangan. Tapi beliau bisa menempatkan diri dengan baik sebagai atasan. Padahal hampir seluruh bawahannya berumur lebih tua darnya. Tapi semua bawahannya tetap menghormatinya. Temanku itu menempatkan diri tidak sebagai atasan, tapi sebagai teman. Beliau tidak risih jika harus ikut masuk kedalam Lumpur untuk memperbaiki pipa, atau rela memeriksa septic tank yang sedang bocor. Itu kenapa semua bawahan menjadi segan terhadapnya. 

Lagi kangen ma atasanku yang dulu. 3,5 tahun bekerja aku dipromosi sampe 4 kali. Bukan masalah gajinya yang juga dinaikin, tapi penghargaannya atas kerja kerasku. Saat itu aku merasa senang sekali bekerja walaupun ketika cuti telponku nggak berhenti berdering setiap hari untuk urusan pekerjaan. Aku juga harus siap diganggu soal kerjaan 24 jam. Tapi aku tetap enjoy dan ngerasa ikhlas banget, karena reward yang kuperoleh sebanding dengan apa yang aku lakukan. 

Menyandang amanah sebagai seorang pemimpin itu tidak mudah. Aku jadi heran dengan orang yang berlomba-lomba menjadi pemimpin sebuah daerah bahkan rela merogoh kocek yang tidak sedikit. Apa mereka tidak sadar, menjadi pimpinan, atasan itu harus bisa menjadi panutan bagi anak buah atau masyarakatnya. Kalau merasa belum mampu sebaiknya JANGAN DULU.

Note : Mbak reni, maaf ya dapat ide lagi setelah baca tulisannya

10 comments:

yanuar catur rastafara said...

heem, aku setuju..
kalau emank lum siap, mending ditunda dulu dech
hehehe

Danil Edan said...

setuju deh q simax ja dee

catatan kecilku said...

Olala... ternyata postinganku memberikan ide buat mbak nietha to..?
Ternyata manusia dimana2 sama saja ya mbak, yg ambisius akan menghalalkan beraneka cara agar bisa naik jabatan.

the others... said...

Emang jika pemimpinnya enak.., kita yg kerja juga enak ya mbak..
Sayang tak banyak pemimpin yg enak itu.. :(

anazkia said...

Jadi pemimpin itu gak enak :(

Nith, kandidatnya mah kita ajah hehehehe.. sapa yang palig acak kadut diantara postingan kita :))

kristiyana shinta said...

iyyaaahhh, bete deh,, jangankan sama pimpinan,, kalo rekan kerja udah mulai annoying,, haaduuhh pengen nonjok rasanya,, uppss jadi curhat :P

kristiyana shinta said...

terkadang hal2 yang menindas itu terjadi pada karyawan level bawah :( kan kasihan :)

Awan said...

berarti kalo saatnya jadi pimpinan udah tiba, mbak harus niru pimpinan yg ngangenin itu mbak,,, aq juga deh...

Ony H said...

numpang ..

Ony H said...

gak mesti wong sing enak dadi konco enak pisan dadi atasan, jane nek wis eruh apik elek e kan enak kari ngasah apik e mbek alon2 mbusek elek e, ga oleh gurung gurung dielek-elekno, ga ono wong sempurna jes….

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
LUMBUNGHATI © 2008. Design by :Ezyvector Sponsored by: LUMBUNGHATI.COM